Ada satu hal yang sering dirasakan wong Thorjo di perantauan, tapi jarang diucapkan dengan jelas: kita pergi jauh, tapi tidak pernah benar-benar pergi.

Di Jabodetabek, kita hidup dengan ritme yang cepat. Kerja dikejar waktu, macet jadi teman harian, dan obrolan sering berputar soal target, cicilan, dan deadline. Tapi di sela-sela itu, ada hal-hal kecil yang diam-diam tetap kita bawa dari Kutoarjo—cara tertawa, cara menyapa, cara bercanda, bahkan cara diam saat sedang mikir.
Banyak dari kita yang sudah belasan tahun merantau. Anak-anak lahir di kota, sekolah di kota, berbicara dengan logat yang pelan-pelan berubah. Tapi setiap kali mendengar kata “Thorjo”, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar nama tempat, tapi ingatan tentang pulang.
Pulang, dalam arti yang lebih luas.
Bukan cuma mudik setahun sekali. Tapi pulang ke rasa kebersamaan. Ke obrolan yang tidak perlu formal. Ke kebiasaan saling membantu tanpa hitung-hitungan. Ke perasaan “ora piyambakan” — tidak sendirian.
Di situlah makna Pakutho menjadi penting.

Paguyuban bukan hanya soal struktur, kepengurusan, atau agenda kegiatan. Ia adalah ruang aman bagi wong Thorjo untuk tetap menjadi diri sendiri, tanpa harus menjelaskan asal-usul atau menyesuaikan logika hidup orang lain. Di Pakutho, logat ngapak tidak perlu disembunyikan. Cerita kampung tidak dianggap ketinggalan zaman. Dan perbedaan jalan hidup dirayakan, bukan dibandingkan.
Menjadi diaspora bukan berarti kehilangan akar. Justru di perantauan, akar itu diuji: apakah kita masih ingat dari mana kita berasal, dan nilai apa yang ingin kita bawa ke mana pun kita melangkah.
Pakutho hadir sebagai pengingat bahwa identitas bukan sesuatu yang ditinggalkan demi sukses, melainkan bekal untuk bertahan dan bertumbuh. Bahwa kebersamaan tidak harus selalu fisik, tapi bisa dijaga lewat pertemuan, cerita, dan kepedulian.
Kita mungkin tidak tinggal di Kutoarjo hari ini. Tapi selama kita masih saling menyapa sebagai wong Thorjo, kita tidak pernah benar-benar jauh dari rumah.
Karena bagi diaspora, pulang tidak selalu soal alamat.
Kadang, pulang adalah tentang siapa yang membuat kita merasa dikenal.


